Teknik Pemeriksaan Kedokteran Nuklir (Thyroid Scintigraphy)

1. PROSEDUR PEMERIKSAAN

a. In Vitro
• Radioimmunoassay (RIA)
• Teknik pemeriksaan yang digunakan yaitu darah pasien 5 cc (dipisahkan antara plasma dan sel darah merah)
• Plasma darah + Larutan I-125 + Kit hormon triodothyronine (T3) dan thyroxine (T4)
• T3 dan T4 yang mengikat I-125 akan mengendap sedangkan yang tidak mengikat akan tetap dalam cairan
• Pisahkan endapan dan cairan
• Hitung aktivitas pada endapan dengan alat “ Well Type Counter “
• Hasil perhitungan dapat menentukan nilai T3 dan T4 dalam darah yang menggambarkan fungsi dari thyroid

b. In Vivo
• Up Take Thyroid
• Thyroid Scintigraphy

2. PEMILIHAN RADIONUKLIDA

I – 131
• Dengan waktu paruh 8,1 hari memungkinkan dapat disimpan.
• Energi gamma 364 keV mudah dideteksi dari luar tubuh.
• Memancarkan sinar beta sehingga dapat digunakan untuk internal radiasi pada hyperthyroidism (graves disease) dan kanker thyroid.

Tc – 99m
• Waktu paruhnya pendek (6,02 jam) sehingga beban radiasi terhadap pasien rendah.
• Energi gamma 140 keV, sangat efisien dideteksi oleh kristal skintilasi ukuran 3/8 – ½ inchi.
• Bentuk molekulnya sama dengan Iodium, sehingga dapat diserap oleh kelenjar thyroid namun mudah dilepas kembali.

I – 123
• Waktu paruhnya 13,3 jam.
• Energi gamma 159 keV.
• Dapat diproduksi melalui cyclotron.
Dari ke–3 radionuklida di atas, Tc-99m merupakan radionuklida yang sekarang banyak dipakai untuk pemeriksaan thyroid, sedangkan pada kasus post thyroidektomi untuk melihat ada tidaknya sisa thyroid masih dipakai I-131

3. INDIKASI
• Evaluasi nodul thyroid
• Evaluasi pembesaran kelenjar thyroid tanpa nodul yang jelas
• Evaluasi jaringan thyroid ektropik atau sisa pasca operasi
• Evaluasi fungsi thyroid

4. RADIOFARMAKA
• NaI– 131 dosis 300 µCi, diberikan per oral
• Tc-99m pertechnetate dengan dosis 2 – 5 mCi, diberikan secara intravena

5. PERALATAN
• Kamera gamma kolimator pinhole atau kolimator LEHR untuk Tc-99m pertechnetate dan energi medium untuk I – 131.
• Pemilihan kolimator tergantung pada energi radiasi gamma utama dari radionuklida yang digunakan.

6. PERSIAPAN PASIEN
• Bila yang digunakan NaI– 131, pasien dipuasakan selama 6 jam.
• Obat – obat dihentikan selama beberapa waktu.



7. PERSIAPAN PEMERIKSAAN
• Siapkan bahan radioaktif 99mTc didalam spuit dengan aktivitas 2 – 5 mCi pemberian dilakukan dengan penyuntikan intravena.
• Pemeriksaan dilakukan 10 - 15 menit setelah pemberian radiofarmaka.
• Pada kasus post thyroidektomi radiofarmaka yang dipakai NaI-131 dengan aktivitas 300 µCi diberikan per oral.
• Pemeriksaan dilakukan 24 jam setelah pemberian radiofarmaka.

8. TATALAKSANA
• Pencitraan dilakukan 10 – 15 menit setelah penyuntikan 99mTc pertechnetate intravena, atau 24 jam setelah minum NaI– 131.
• Pasien tidur terlentang dibawah kamera gamma dengan leher (± 10 cm) dalam keadaan hiperekstensi.
• Pencitraan statik dilakukan pada posisi AP (kalau perlu oblique kiri dan kanan).
• Pada kartilago thyroid dan jugulum diberi tanda marker.

9. PROSES PENGOLAHAN DATA
• Data yang didapat selama pemeriksaan diproses melalui komputer pengolah data.
• Hasil yang didapat berupa gambar thyroid serta perhitungan up take dan dengan bantuan formater difotokan pada film format









10. CATATAN
• Radionuklida yang paling ideal untuk evaluasi kelenjar tiroid adalah NaI-131, karena energinya tidak terlalu tinggi (159 keV) dengan waktu paruh pendek (13,2 jam). Sayangnya Nal-131 saat ini belum ada di Indonesia. • Obat-obat tertentu, terutama yang mengandung iodium dan hormon tiroid akan mengganggu.